Wednesday, September 18, 2019

SURAT CINTA UNTUK PARA KEKASIH

Untuk para kekasihku di mana pun kalian berada 

Semoga kalian menikmati perjalanan kali ini.  Aku sendiri dalam dua bulan memilih untuk tinggal sementara di sini, di sebuah pulau indah penuh berkah. 

Aku paling tidak suka ketika jatuh cinta.  Pertama, aku pasti tidak punya selera makan.  Meski perut keroncongan dan makanan yang disajikan tampak oishi, aku wegah menyentuhnya. Aku membiarkan lambungku semakin parah.  

Kedua,  aku jadi sering membuka WA hanya sekadar mengecek last seen. Ketika ada tulisan online, segera aku tutup lagi WA itu.  Tapi ini aku ulang sampai berkali-kali sehingga menghabiskan waktu yang seharusnya bisa aku gunakan untuk membaca novel-novel yang baru aku beli.  

Ketiga,  aku jadi suka mendengarkan musik.  Biasanya aku suka keheningan. Sepi selalu menenteramkan hatiku.  Sunyi yang selalu bergayut dalam hati membawaku ke tempat-tempat jauh yang aku sering mimpikan.  Itulah alasan bahwa aku ga suka keramaian. 

Kembali ke jatuh cinta ya,   bagi orang lain adalah naif mengapa aku paling suka jatuh cinta pada orang-orang yang cerdas dan menginspirasi.  Mungkin karena rasa hausku terhadap ilmu atau aku memang suka pada petualangan.

Seminggu ini aku tak menulis apa pun.  Setiap aku memutuskan untuk membuka laptop tiba-tiba aku enggan menggerakkan kursor ke arah ikon MS word. Aku kehabisan ide.  Meski nafas panjang aku tarik dalam-dalam, pandangan aku arahkan ke layar dan aku mencoba memusatkan pikiranku, bayangan diri lelaki itu terus berkelebat di depanku. 

Kami tak pernah bertemu langsung.  Bagaimana bisa aku sangat tertarik padanya?  Banyak orang mengatakan bahwa aku jatuh cinta pada pandangan pertama?  Pandangan yang mana? Wajah dan rupanya pun aku tak mengenalnya. Aduh mengapa semakin rumit?  Aku terus mencoba mengurai penyebab kegelisahanku selama seminggu ini.

Berawal dari perkenalanku dengan lelaki itu, cara dia mengungkapkan kata, frasa, klausa, dan kalimat mengalahkan bagaimana seorang pangeran merayu seorang putri cantik yang hendak dipinangnya.  Apakah kalian berpikir tentang ungkapan-ungkapan cinta lelaki itu kepadaku? Kalau kalian mengiyakan, sesungguhnya kalian keliru. Lelaki itu tak mengirim pesan gombal bernada rayuan.

Dia hanya menulis paragraf-paragraf yang berisi kalimat-kalimat yang ditulis dengan runtut.  Jika kalimat-kalimat utamanya dia letakkan di awal paragraf-paragraf tersebut, dia akan menjelaskan semua pendukungnya pada baris-baris berikutnya.

"Hanya dengan alasan sesederhana itu kah kamu menjadi jatuh padanya?"  Kalian membelalakkan mata sambil mengangkat pantat dari tempat duduk. 

Andai saja kalian tahu betapa cara lelaki itu berpikir, berpendapat, dan menuangkannya ke dalam tulisan, kalian pasti akan klepek-klepek di buatnya.  Efeknya seperti tornado dengan hujan besar yang membanjiri setiap jalanan di kota Toowoomba di musim semi tahun ini.
Kelugasan, ketepatan dan keindahan bahasa yang digunakan membuatku termehek-mehek.  Aku yang begitu melankolis dan suka menulis puisi-puisi cinta dan rindu merasa tak berdaya lagi.  Enjambemen yang disarankan oleh seorang teman yang karya-karyanya selalu aku baca tak mampu menggerakkan otak dan jemariku untuk memulai bahkan satu bait puisi.


Aku lebih memilih untuk dengan hati-hati dan teliti menghentakkan tuts-tuts keyboard hapeku agar tidak terjadi typo.  Untaian kata dan frasa juga aku baca lagi dan jika telah mengandung subjek dan predikat yang jelas dan berterima barulah aku memberinya koma atau titik sesuai kaidah penulisan klausa dependen atau Independen. 

Rembulan jingga di awal sepertiga malam pertama tak mampu menggugah asaku untuk menghasilkan puisi cinta.   Justru aku memilih untuk mencari esai-esai yang telah dia tulis di banyak media.
Sinar rembulan yang menembus daun-daun suji yang tumbuh liar di dinding kolam ikan di samping jendela kamarku tak mampu merayuku untuk menguntai kata-kata lembut sebagaimana yang biasa aku kirimkan kepada bintang panjer esuk yang setia menemaniku berjalan melewati pematang padi menuju tempatku belajar kala kecil.

Kami sekadar berbicara tentang preposisi, awalan,  diksi, tanda baca, definisi dan nosi. Sesekali dia menimpali chats kami dengan pandangan-pandangannya tentang sastrawan tertentu, tokoh agama,  dai, ilmuwan, dan politikus. Atau kadangkala dia menambahkan sudut pandangnya terhadap karya-karya para maestro.

Aku menjadi seperti debu yang berada pada ruang luas di sebuah halaman kastil yang berdiri jauh dari keramaian.  Sekali debu itu terkena angin lembut yang meniup mesra, dia akan terpental. Aku merasa semakin bodoh dan ignorant.  Tak punya pengetahuan yang cukup untuk mengimbangi diskusinya. Tentang Bertrand Russell, Ibnu Sina, dan tokoh-tokoh lain yang mempengaruhi peradaban dunia.  Aku semakin tenggelam ke dalam lumpur dan sulit untuk menarik kembali kaki-kakiku yang semakin rapuh agar bisa menapakkannya ke jalanan yang keras. Aku ingin segera bangkit dan berlari untuk membaca semakin banyak buku.

Kemalasan yang melandaku belum hilang.  Coba lihat, 8 novel berbahasa Inggris dan dua buku populer tentang membuat catatan perjalanan juga masih mangkrak di rak di bawah tempat tidur.  Kemarin 4 novel aku pindah ke lemari buku di dekat ruang tamu. Sisanya ada di atas meja bundar di depan pintu kamar. Sedangkan buku yang ditulis Arini Tathagati berjudul Travel Writing belum aku tuntaskan juga.  Sebulan lalu aku bawa buku tersebut dalam perjalananku ke negeri matahari terbit. Sesekali aku buka ketika aku menunggu anak-anak pergi ke rest room dan membeli makanan ringan di waiting room menunggu boarding. Buku itu sengaja aku beli untuk memotivasiku menulis kisah perjalananku.

Terus apalagi kalau begitu?  Ya itulah. Tulisan-tulisan dia telah mengalahkan minatku untuk membaca buku-buku lain.  Efek lain bahkan aku sering menghapus kata-kata yang sudah terpampang di layar hape, menggantinya dengan yang baku,  aku tekan lagi tombol backspace dan kuulang berkali-kali.

Para kekasihku, aku harap kalian tidak cemburu.  Kita pernah berjalan menyusuri West Street menuju District Center dan menikmati mural-mural cantik di sepanjang jalan.  Ingatkah kalian seberapa cepat irama langkah kaki kita? Sepanjang jalan yang kita lintasi hanyalah menampakkan keindahan  akhir musim dingin. Bunga-bunga yang mekar di belakang gedung berbata kuno itu mengingatkan kita tentang berserinya cherry blossom di Shinjuku Gyoen Park.  Tapi maafkanlah aku jika lelaki ini membuatku tak menghubungimu dalam minggu ini.

Namsan Tower yang pernah kita kitari, karena kita ingin seperti para pasangan yang sedang dilanda cinta, masih kalah syahdu dengan merdunya suara message masuk pada Whatsappku.

Dulu kalian sering menjemputku bersama Mike untuk pergi ke ranch milik ibunya. Mengenakan sepatu kulit warna kecoklatan, kita segera melompat mesra ke atas kuda putih bernama Blue. Kita lihat kanguru-kanguru yang keluar masuk semak-semak di sepanjang sungai kecil yang dirindangi pohon-pohon willow. Tapi kemesraan kita masih kalah dengan ketangguhannya menyelesaikan karya-karyanya. 

Andai saja aku bandel dan mampu mengabaikan perasaan orang lain,  aku akan terus meminta lelaki itu untuk terus mengajariku menulis.  Dia sendiri harus bertanggungjawab dengan deadline yang mengejarnya, menyelesaikan artikel,  membuat berita, dan setidaknya dia juga perlu waktu untuk mengistirahatkan sukma.

 Para kekasihku yang baik,    terimakasih kalian mau mengerti apa yang aku rasa.  Kita akan berjumpa untuk mengadakan perjalanan selanjutnya.
Halong Bay.  Di pantai itu, nanti kita akan menyusun    bebagai jenis kalimat-kalimat baru. Konjungsi yang kita pilih pun tak hanya sekadar "dan" seperti yang biasa kita pakai antara kamu dan aku.

Written by

We are Creative Blogger Theme Wavers which provides user friendly, effective and easy to use themes. Each support has free and providing HD support screen casting.

2 comments:

  1. Cantiiik sekali feel di tulisan ini.. Suka bgt cara bundaa bercerita. Keep writing! I'll be number one fans!!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Thanks a bunch, dear. You yourself are good in conveying fresh ideas. Let's keep writing

      Delete

 

© 2013 FlatMag. All rights resevered. Designed by Templateism