Harga kreativitas
Kreativitas tidak muncul secara serta merta dari benak seseorang. Sebagian besar karena kebutuhan dan sebagian lainnya karena masalah. Dan ini terjadi sejak jaman Sapien.
Melimpahnya bahan pangan yang tidak habis untuk sekali konsumsi membuat manusia mengawetkan bahan makanan dengan mengasap, mengeringkan, membekukan, menggarami, menggulai, dan memfermentasi. Kalau tidak dilakukan dengan salah satu cara tersebut, bahan pangan akan segera membusuk dan manusia tentu saja mengalami kerugian.
Sibuknya manusia juga menimbulkan keluhan-keluhan dengan pekerjaan rumah tangga. Mencuci dan menggosok baju menjadi pekerjaan berat saat kita harus bekerja di luar rumah dengan waktu yang panjang dalam keseharian. Munculnya mesin cuci, pengering, seterika listrik, dll didasari atas keperluan laundry.
Manusia suka keindahan dan sesuatu yang baru. Keinginan untuk mencoba warna, rasa, bentuk, dan sensasi yang berbeda timbul setiap saat. Meski dari bahan yang sama dan fungsinya tak berbeda, manusia merasa puas jika bisa merasakan sensasi baru.
Ketela pohon, yang pada jaman dulu, hanya dikupas, dicuci, dan direbus, sekarang mengalami perubahan bentuk dan rasa di tangan orang-orang kreatif. Banyak penawaran cireng, cilok, klepon, kripik, singkong keju, gethuk yang berasal dari ketela pohon. Dengan perubahan bentuk,.penambahan rasa, plus storytelling yang digunakan untuk mempromosikan barang yang ditawarkan, mindset kita menjadi berubah juga.
Bayangan akan ada kenikmatan dan sensasi luar baisa akan muncul dalam otak dan memicu keinginan untuk membeli dan mencicipi sesuatu yang baru. Harga menjadi tidak masalah. Bahkan pertimbangan kesehatan kadang terabaikan manakala keinginan kita sudah kuat.
Kreativitas seharusnya terus dimunculkan dalam berbagai tempat pendidikan. Anak-anak tidak perlu diminta menyalin dari papan tulis tentang definisi ketela pohon, menghafalkan jenis-jenis makanan yang berasal dari ketela maupun diberi tes berupa pilihan ganda tentang jumlah ketela yang digunakan untuk memberikan umpan tikus. Mereka perlu difasilitasi untuk menghasilkan nilai tambah dari ketela pohon.
Anak-anak bisa mengamati para penjual singkong keju mozarella, gethuk presiden, tela-tela. Apa yang sebenarnya membuat hasil olahan itu bisa menjadi sangat digemari oleh para konsumen. Dikarenakan produk itu sendiri, kemasan, iklan atau ada sebab lain?
Storytelling rupanya mengalahkan segalanya. Sebagian penjual produk mendapat laba besar bukan karena produknya tapi karena image yang diciptakan. Image yang telah menyantu ke dalam jiwa konsumen akan sulit dipisahkan. Ketika seseorang telah jatuh cinta terhadap sesuatu, harga tidak akan menjadi masalah.
Nah, sekolah jaman sekarang yang memiliki anak-anak generasi Z dan Alpha seharusnya sudah meninggalkan cara-cara kuno dalam pembelajaran. Keingintahuan anak tidak boleh dikebiri. Bukan berarti mereka tidak mematuhi guru jika mereka enggan mendengarkan guru yang berceramah di depan kelas. Mereka hanya sudah jauh lebih paham. Mereka sudah mendapat pajanan dari berbagai sumber informatif yang bisa didapat dengan mudah dan menyenangkan.
Anak-anak memerlukan guru agar mereka bisa menciptakan kreativitas. Mereka perlu pengalaman nyata untuk mengenal siapa tetangga mereka, berapa jumlah orang yang makan ayam setiap hari, pekerjaan apa yang sedang dibutuhkan. Sehingga pelajaran tematik yang berhubungan dengan jatidirinya dan lingkungan sekitarnya itu memang diperlukan oleh mereka.
Anak-anak yang dibesarkan tanpa mengenal kreativitas akan tumbuh menjadi orang-orang yang menggantungkan diri pada orang lain, suka mencela dan menyalahkan keadaan, dan enggan bangkit ketika meraka terpuruk untuk pertama kalinya.
Tuesday, September 17, 2019
Written by smartgart
We are Creative Blogger Theme Wavers which provides user friendly, effective and easy to use themes. Each support has free and providing HD support screen casting.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
About
Tags
Popular
0 comments:
Post a Comment