Tuesday, April 26, 2022

 Pelajaran yang Fawwaz dapatkan hari ini adalah tentang seorang Ustadz berusia 19 tahun.  Beliau menjadi imam solat di Rumah Quran dan mengajar bahasa Arab di TPQ Plus.  Inilah yang membuat Fawwaz mau belajar lebih banyak lagi. 

Monday, April 25, 2022

 Berkat

Lima puluh nasi box sudah datang sejak pukul 3 sore.  Setelah caterer meninggalkan pintu gerbang rumahku, hujan deras seperti grojogan yang melimpah airnya.  Orang Inggris bilang 'It's raining cats and dogs.' Benar-benar talang rumahku kewalahan menampung air hujan sore ini.  

Anak-anak malah semakin asyik main game di kamar masing-masing.  Sebenarnya pagi dan siang tadi sudah aku ingatkan mereka agar segera mengantar nasi ke tetangga di lingkungan RT.  Dengan alasan hujan mereka semakin memperbanyak alasan untuk tidak segera mengantarkan berkat.  

'Fawwaz...Nabhan..., ayo segera berangkat,' kataku seraya mengernyitkan dahi. Air dari atap teras depan membanjiri jalan cor yang sudah mulai berlubang di lorong depan rumah. Semakin lama semakin meninggi airnya. Mereka mengantar berkatnya dari satu rumah ke rumah lainnya. 

Langit semakin gelap. Jarum jam seolah semakin berlari.  Waktu magrib kurang 4 menit. "Ayo, Nak, segera bergegas.  Ibu paling susah jika makanan ini tidak terantarkan semua."  Masih ada 3 kresek besar yang masing-masing berisi 5 dos. 

Akhirnya berkat baru sampai ke semua tempat tujuan setelah solat tarawih.


Sunday, April 24, 2022

Latihan Menulis Flash Fiction

 Hari Minggu selalu menjadi hari sibuk sejak saya berkomitmen menjadi Tutor UT UPBJJ Semarang.  Artinya dalam satu semester, saya harus mengahbiskan 8 kali hari Minggu untuk mengajar dan menemani mahasiswa.  Kalau mendapat jadwal mata kuliah non praktik sih saya tidak begitu sibuk koreksi.  Kebetulan hampir tiap semester saya juga disampiri mata kuliah berpraktik, otomatis koreksian selalu banyak.  Satu kali penugasan bisa menjadi 65 koreksian dan juga pemberian umpan balik.  Apalagi ketika menggunakan sistem tuweb seperti sekarang.  Mahasiswa bisa saja mengirim pesan 24/7.  Tergantung kita sih mau merespon jam berapa. Tetapi saya suka merespon segera.  Seperi pagi ini, selesai sahur dan solat subuh, saya cek lagi barangkali ada pekerjaan mahasiswa yang belum saya beri masukan.  

Sambil memasukkan cucian ke dalam mesin cuci, saya cek lagi LMS, Moodle, dan ada 3 mahasiswa yang belum kelihatan pekerjaannya. Saya langsung konfirmasi kepada mereka dan mendapat jawaban bahwa salah satunya kemarin baru berduka, satu lagi sudah mengumpulkan tetapai terlambat 23 menit.  Ah semua jadi pakai perhitungan detak jarum jam.  

Beberapa hari lalu saya mendaftar pelatihan menulis 'flash fiction'.  Sebenarnya mulai jam 9 pagi ini.  Saya masuk setelah selesai mengajar, jam 10.15.  Wah langsung saya klik tautan zoom dengan antusias.  lama sekali saya tidak menulis di media sosial. Presentasi Gol A Gong keren banget.  Contoh-contoh karyanya ditayangkan dan saya jadi memahami apa sih sebenarnya flash fiction.  

Bisa kita katakan fiksi pendek atau fiksi singkat.  Syarat dari flash fiction adalah ada ide, ciptakan tokoh, judul, tentukan setting lokasi, konflik, ending yang mengejutkan.  Panjang tulisan maksimal 1 halaman.






Helm

Pukul 7.35 pagi. Aku ambil ambil dengan cepat dari teras.  Eh kok basah.  Ga apa-apa lah.  Tetap aku pakai. Setelah motor kuparkir di sebelah ruang TU sekolah, aku bawa helmnya ke ruang biasanya aku mengajar di hari Minggu.  Matahari bersinar terang.  Ada tanda-tanda panas menyengat.  Kujemur helmku di depan UKS.  Sejam kemudian panasnya beralih ke depan aula.  Aku pindahkan helmnya di sana.  Alhamduillah.  Selelasi mengajar 2 jam di sesi 1.  Helm keihatan kering.  Sambil menunggu jam mengajar di sesi berikutnya aku mengikuti pelatihan menulis flash fiction. 
"Ma'am, helm siapa ini di sini?" teriak Rahma yang baru turun dari lab komputer.
"Helmku, Dik.  Jangan dipindah biar kering," teriakku di sela-sela zoom meeting.
Adzan dhuhur berkumandang.  Ada Pak Kholiq lewat ruanganku.
"Mau solat sekarang, Pak?" tanyaku masih sambil dengarkan penanya dari Jogja yang katanya telat masuknya.
"Iya." Pak Kholiq menjawab singkat.
Aku bergegas ambil air wudhlu.  Solat duhuh berjamaah dengan dua orang lainnya.  Selesai solat aku rebahan sebentar karena sesi berikutnya mulai pukul 13.00.  Segera saya keluar masjid dan kudengar suara penjaga sekolah.
"Helmnya siapa ini kebanjiran?"



Wednesday, September 18, 2019

SURAT CINTA UNTUK PARA KEKASIH

Untuk para kekasihku di mana pun kalian berada 

Semoga kalian menikmati perjalanan kali ini.  Aku sendiri dalam dua bulan memilih untuk tinggal sementara di sini, di sebuah pulau indah penuh berkah. 

Aku paling tidak suka ketika jatuh cinta.  Pertama, aku pasti tidak punya selera makan.  Meski perut keroncongan dan makanan yang disajikan tampak oishi, aku wegah menyentuhnya. Aku membiarkan lambungku semakin parah.  

Kedua,  aku jadi sering membuka WA hanya sekadar mengecek last seen. Ketika ada tulisan online, segera aku tutup lagi WA itu.  Tapi ini aku ulang sampai berkali-kali sehingga menghabiskan waktu yang seharusnya bisa aku gunakan untuk membaca novel-novel yang baru aku beli.  

Ketiga,  aku jadi suka mendengarkan musik.  Biasanya aku suka keheningan. Sepi selalu menenteramkan hatiku.  Sunyi yang selalu bergayut dalam hati membawaku ke tempat-tempat jauh yang aku sering mimpikan.  Itulah alasan bahwa aku ga suka keramaian. 

Kembali ke jatuh cinta ya,   bagi orang lain adalah naif mengapa aku paling suka jatuh cinta pada orang-orang yang cerdas dan menginspirasi.  Mungkin karena rasa hausku terhadap ilmu atau aku memang suka pada petualangan.

Seminggu ini aku tak menulis apa pun.  Setiap aku memutuskan untuk membuka laptop tiba-tiba aku enggan menggerakkan kursor ke arah ikon MS word. Aku kehabisan ide.  Meski nafas panjang aku tarik dalam-dalam, pandangan aku arahkan ke layar dan aku mencoba memusatkan pikiranku, bayangan diri lelaki itu terus berkelebat di depanku. 

Kami tak pernah bertemu langsung.  Bagaimana bisa aku sangat tertarik padanya?  Banyak orang mengatakan bahwa aku jatuh cinta pada pandangan pertama?  Pandangan yang mana? Wajah dan rupanya pun aku tak mengenalnya. Aduh mengapa semakin rumit?  Aku terus mencoba mengurai penyebab kegelisahanku selama seminggu ini.

Berawal dari perkenalanku dengan lelaki itu, cara dia mengungkapkan kata, frasa, klausa, dan kalimat mengalahkan bagaimana seorang pangeran merayu seorang putri cantik yang hendak dipinangnya.  Apakah kalian berpikir tentang ungkapan-ungkapan cinta lelaki itu kepadaku? Kalau kalian mengiyakan, sesungguhnya kalian keliru. Lelaki itu tak mengirim pesan gombal bernada rayuan.

Dia hanya menulis paragraf-paragraf yang berisi kalimat-kalimat yang ditulis dengan runtut.  Jika kalimat-kalimat utamanya dia letakkan di awal paragraf-paragraf tersebut, dia akan menjelaskan semua pendukungnya pada baris-baris berikutnya.

"Hanya dengan alasan sesederhana itu kah kamu menjadi jatuh padanya?"  Kalian membelalakkan mata sambil mengangkat pantat dari tempat duduk. 

Andai saja kalian tahu betapa cara lelaki itu berpikir, berpendapat, dan menuangkannya ke dalam tulisan, kalian pasti akan klepek-klepek di buatnya.  Efeknya seperti tornado dengan hujan besar yang membanjiri setiap jalanan di kota Toowoomba di musim semi tahun ini.
Kelugasan, ketepatan dan keindahan bahasa yang digunakan membuatku termehek-mehek.  Aku yang begitu melankolis dan suka menulis puisi-puisi cinta dan rindu merasa tak berdaya lagi.  Enjambemen yang disarankan oleh seorang teman yang karya-karyanya selalu aku baca tak mampu menggerakkan otak dan jemariku untuk memulai bahkan satu bait puisi.


Aku lebih memilih untuk dengan hati-hati dan teliti menghentakkan tuts-tuts keyboard hapeku agar tidak terjadi typo.  Untaian kata dan frasa juga aku baca lagi dan jika telah mengandung subjek dan predikat yang jelas dan berterima barulah aku memberinya koma atau titik sesuai kaidah penulisan klausa dependen atau Independen. 

Rembulan jingga di awal sepertiga malam pertama tak mampu menggugah asaku untuk menghasilkan puisi cinta.   Justru aku memilih untuk mencari esai-esai yang telah dia tulis di banyak media.
Sinar rembulan yang menembus daun-daun suji yang tumbuh liar di dinding kolam ikan di samping jendela kamarku tak mampu merayuku untuk menguntai kata-kata lembut sebagaimana yang biasa aku kirimkan kepada bintang panjer esuk yang setia menemaniku berjalan melewati pematang padi menuju tempatku belajar kala kecil.

Kami sekadar berbicara tentang preposisi, awalan,  diksi, tanda baca, definisi dan nosi. Sesekali dia menimpali chats kami dengan pandangan-pandangannya tentang sastrawan tertentu, tokoh agama,  dai, ilmuwan, dan politikus. Atau kadangkala dia menambahkan sudut pandangnya terhadap karya-karya para maestro.

Aku menjadi seperti debu yang berada pada ruang luas di sebuah halaman kastil yang berdiri jauh dari keramaian.  Sekali debu itu terkena angin lembut yang meniup mesra, dia akan terpental. Aku merasa semakin bodoh dan ignorant.  Tak punya pengetahuan yang cukup untuk mengimbangi diskusinya. Tentang Bertrand Russell, Ibnu Sina, dan tokoh-tokoh lain yang mempengaruhi peradaban dunia.  Aku semakin tenggelam ke dalam lumpur dan sulit untuk menarik kembali kaki-kakiku yang semakin rapuh agar bisa menapakkannya ke jalanan yang keras. Aku ingin segera bangkit dan berlari untuk membaca semakin banyak buku.

Kemalasan yang melandaku belum hilang.  Coba lihat, 8 novel berbahasa Inggris dan dua buku populer tentang membuat catatan perjalanan juga masih mangkrak di rak di bawah tempat tidur.  Kemarin 4 novel aku pindah ke lemari buku di dekat ruang tamu. Sisanya ada di atas meja bundar di depan pintu kamar. Sedangkan buku yang ditulis Arini Tathagati berjudul Travel Writing belum aku tuntaskan juga.  Sebulan lalu aku bawa buku tersebut dalam perjalananku ke negeri matahari terbit. Sesekali aku buka ketika aku menunggu anak-anak pergi ke rest room dan membeli makanan ringan di waiting room menunggu boarding. Buku itu sengaja aku beli untuk memotivasiku menulis kisah perjalananku.

Terus apalagi kalau begitu?  Ya itulah. Tulisan-tulisan dia telah mengalahkan minatku untuk membaca buku-buku lain.  Efek lain bahkan aku sering menghapus kata-kata yang sudah terpampang di layar hape, menggantinya dengan yang baku,  aku tekan lagi tombol backspace dan kuulang berkali-kali.

Para kekasihku, aku harap kalian tidak cemburu.  Kita pernah berjalan menyusuri West Street menuju District Center dan menikmati mural-mural cantik di sepanjang jalan.  Ingatkah kalian seberapa cepat irama langkah kaki kita? Sepanjang jalan yang kita lintasi hanyalah menampakkan keindahan  akhir musim dingin. Bunga-bunga yang mekar di belakang gedung berbata kuno itu mengingatkan kita tentang berserinya cherry blossom di Shinjuku Gyoen Park.  Tapi maafkanlah aku jika lelaki ini membuatku tak menghubungimu dalam minggu ini.

Namsan Tower yang pernah kita kitari, karena kita ingin seperti para pasangan yang sedang dilanda cinta, masih kalah syahdu dengan merdunya suara message masuk pada Whatsappku.

Dulu kalian sering menjemputku bersama Mike untuk pergi ke ranch milik ibunya. Mengenakan sepatu kulit warna kecoklatan, kita segera melompat mesra ke atas kuda putih bernama Blue. Kita lihat kanguru-kanguru yang keluar masuk semak-semak di sepanjang sungai kecil yang dirindangi pohon-pohon willow. Tapi kemesraan kita masih kalah dengan ketangguhannya menyelesaikan karya-karyanya. 

Andai saja aku bandel dan mampu mengabaikan perasaan orang lain,  aku akan terus meminta lelaki itu untuk terus mengajariku menulis.  Dia sendiri harus bertanggungjawab dengan deadline yang mengejarnya, menyelesaikan artikel,  membuat berita, dan setidaknya dia juga perlu waktu untuk mengistirahatkan sukma.

 Para kekasihku yang baik,    terimakasih kalian mau mengerti apa yang aku rasa.  Kita akan berjumpa untuk mengadakan perjalanan selanjutnya.
Halong Bay.  Di pantai itu, nanti kita akan menyusun    bebagai jenis kalimat-kalimat baru. Konjungsi yang kita pilih pun tak hanya sekadar "dan" seperti yang biasa kita pakai antara kamu dan aku.

Tuesday, September 17, 2019

KREATIVITAS

Harga kreativitas

Kreativitas tidak muncul secara serta merta dari benak seseorang. Sebagian besar karena kebutuhan dan sebagian lainnya karena masalah. Dan ini terjadi sejak jaman Sapien.

Melimpahnya bahan pangan yang tidak habis untuk sekali konsumsi membuat manusia mengawetkan bahan makanan dengan mengasap, mengeringkan, membekukan, menggarami, menggulai, dan memfermentasi. Kalau tidak dilakukan dengan salah satu cara tersebut, bahan pangan akan segera membusuk dan manusia tentu saja mengalami kerugian.

Sibuknya manusia juga menimbulkan keluhan-keluhan dengan pekerjaan rumah tangga. Mencuci dan menggosok baju menjadi pekerjaan berat saat kita harus bekerja di luar rumah dengan waktu yang panjang dalam keseharian. Munculnya mesin cuci, pengering, seterika listrik, dll didasari atas keperluan laundry.

Manusia suka keindahan dan sesuatu yang baru. Keinginan untuk mencoba warna, rasa, bentuk, dan sensasi yang berbeda timbul setiap saat. Meski dari bahan yang sama dan fungsinya tak berbeda, manusia merasa puas jika bisa merasakan sensasi baru.

Ketela pohon, yang pada jaman dulu, hanya dikupas, dicuci, dan direbus, sekarang mengalami perubahan bentuk dan rasa di tangan orang-orang kreatif. Banyak penawaran cireng, cilok, klepon, kripik, singkong keju, gethuk yang berasal dari ketela pohon. Dengan perubahan bentuk,.penambahan rasa, plus storytelling yang digunakan untuk mempromosikan barang yang ditawarkan, mindset kita menjadi berubah juga.

Bayangan akan ada kenikmatan dan sensasi luar baisa akan muncul dalam otak dan memicu keinginan untuk membeli dan mencicipi sesuatu yang baru. Harga menjadi tidak masalah. Bahkan pertimbangan kesehatan kadang terabaikan manakala keinginan kita sudah kuat.

Kreativitas seharusnya terus dimunculkan dalam berbagai tempat pendidikan.  Anak-anak tidak perlu diminta menyalin dari papan tulis tentang definisi ketela pohon, menghafalkan jenis-jenis makanan yang berasal dari ketela maupun diberi tes berupa pilihan ganda tentang jumlah ketela yang digunakan untuk memberikan umpan tikus. Mereka perlu difasilitasi untuk menghasilkan nilai tambah dari ketela pohon.

Anak-anak bisa mengamati para penjual singkong keju mozarella, gethuk presiden, tela-tela. Apa yang sebenarnya membuat hasil olahan itu bisa menjadi sangat digemari oleh para konsumen. Dikarenakan produk itu sendiri, kemasan, iklan atau ada sebab lain?

Storytelling rupanya mengalahkan segalanya. Sebagian penjual produk mendapat laba besar bukan karena produknya tapi karena image yang diciptakan. Image yang telah menyantu ke dalam jiwa konsumen akan sulit dipisahkan. Ketika seseorang telah jatuh cinta terhadap sesuatu, harga tidak akan menjadi masalah.

Nah, sekolah jaman sekarang yang memiliki anak-anak generasi Z dan Alpha seharusnya sudah meninggalkan cara-cara kuno dalam pembelajaran. Keingintahuan anak tidak boleh dikebiri. Bukan berarti mereka tidak mematuhi guru jika mereka enggan mendengarkan guru yang berceramah di depan kelas. Mereka hanya sudah jauh lebih paham. Mereka sudah mendapat pajanan dari berbagai sumber informatif yang bisa didapat dengan mudah dan menyenangkan.

Anak-anak memerlukan guru agar mereka bisa menciptakan kreativitas. Mereka perlu pengalaman nyata untuk mengenal siapa tetangga mereka, berapa jumlah orang yang makan ayam setiap hari, pekerjaan apa yang sedang dibutuhkan. Sehingga pelajaran tematik yang berhubungan dengan jatidirinya dan lingkungan sekitarnya itu memang diperlukan oleh mereka.

Anak-anak yang dibesarkan tanpa mengenal kreativitas akan tumbuh menjadi orang-orang yang menggantungkan diri pada orang lain, suka mencela dan menyalahkan keadaan, dan enggan bangkit ketika meraka terpuruk untuk pertama kalinya.

SKYPE IN THE CLASSROOM

Temukan kawan dan budaya baru melalui Skype in the Classroom

Pernahkah Anda sebagai guru merasa kekurangan ide untuk mengaktifkan anak-anak di kelas? Apakah setiap Anda masuk kelas murid-murid sudah mulai duduk rapi dan siap menerima pembelajaran?

Atau justru mereka meninggalkan tempat duduknya? Membuat Anda terperanjat karena mereka duduk di lantai di sudut tuang kelas bermain poker atau catur? Tampak sepi dari depan.  Tiba-tiba ada suara cekikikan dari belakang.

Anak-anak milenial kurang suka mendengarkan ceramah. Mereka lebih suka belajar berdasarkan kenyataan.  Mengerjakan tugas yang menantang. Melakukan kolaborasi untuk menghasilkan sesuatu.

Skype in the Classroom, suatu komunitas gratis yang menawarkan kepada anak-anak pengalaman-pengalaman pendidikan transformative secara langsung.  Ada Virtual Field Trips, pembicaraan dari para pembicara tamu, koneksi dari kelas ke kelas, dan projek kolaborasi secara langsung. 

Yang sering dan paling mudah kami lakukan di sekolah yaitu kami mengajukan permintaan untuk melakukan Skype calls dengan para guru dan siswa di sekolah-sekolah dari negara-negara lain.

Skype merupakan sarana media sosial di adalam kelas.  Alasan pertama ketika kami menggunakan Skype di sekolah adalah kami bebas mengunduh dan menggunakannya.  Selain para guru dan siswa bisa mengambil tindakan untuk melindungi identitasnya, Skype juga menjadi kesempatan yang luar bias untuk mengmebangkan situasi pembelajaran.

Hampir semua sekolah memiliki jaringan internet, meskipun dengan bandwith yang terbatas.  Skype memerlukan jaringan internet yang kuat.  Setelah kita mengunduh Skype dari Skype web site dan memasang di computer, kita bisa menggunakannya untuk kegiatan Skype in the Classroom.

Ada dua alasan mengapa kami menggunakan Skype dalam pembelajaran.  Antara lain yaitu virtual field trips.  Trip yang tidak memungkinkan kita lakukan karena alasan finansial atau jarak tetap bisa kita capai dengan menggunakan Skype untuk mengangkut anak-anak ke negara atau daerah lain.

Alasan kedua adalah belajar bahasa asing. Skype bisa digunakan untuk mengatur sesi komunikasi singkat dengan para penutur asli.  Anak-anak mendengarkan dan berbicara menggunakan bahasa asing.

Dan sore ini
Thanks a million to Mr Bichitro Sinha from  Zakigonj Govt. High school, Bangladesh for the great time in Skype in Classroom with my students, SMP Negeri 2 Blora, Indonesia. My students are getting more addicted.

We were having some quizzes about fish both from the sea and fresh water from our countries. 





#MicrosoftEdu
#MIEExpert2019/2020
#Skypeintheclassroom


PembaTIK Level 3 Rumah Belajar


PembaTIK Level 3
Rumah Belajar

Aku mendengar Rumah Belajar tahun 2018.  Ceritanya aku ini pengguna facebook paling setia. Ada seorang teman yang bekerja di Pustekkom mengunggah pengumuman tentang lomba MembaTIK.  Waktu itu aku membuat media dengan powerpoint online.  Ternyata menggunakan Sway lebih menarik.  Judulnya Be Healthy Be Happy. Chapter 3 kelas 9.  Setelah kukirim ke panitia lomba aku tetap mengikuti perkembangan lomba ini.  Tidak masuk 6 besar.  Tidak ada rasa kecewa sedkit pun.  Memang aku ini bukan ahli TIK.  Mesti banyak belajar dari teman-teman lain.

Everyday is miracle.  Aku selalu percaya pada Law of Attraction. Ask Believe Receive. Semesta mendukung.  Aku selalu bangun pagi dengan perasaan sehat dan gembira.  Perasaan suka dan penuh pengharapan sangat mempengaruhi kesehatan jiwa ragaku.  Aku mesti berangkat ke sekolah dalam keadaan fresh. 

Bagaimana perasaan anak-anak di kelas ketika melihat gurunya berdiri di depan kelas tanpa senyum.  Gairah belajar mereka sangat bergantung pada gurunya.  Aku selalu berusaha mengikuti perkembangan mereka.  Alangkah manjanya.

Lama tidak aktif dengan nomor hapeku yang lama, aku jadi ketinggalan info tentang perkembangan di grup MIEE (Microsoft Innovative Educator Experts).  Ketika aku ada kesulitan meng-upgrade fitur office 365, aku kontak ke salah satu teman Fellow.  Dia menolongku memasukkan nomorku yang baru ke dalam grup lagi.  Ternyata yang grup Whatsapp sudah tidak dipakai.  Pindah ke Kaizala.  Alhamdulillah.  Memiliki sahabat-sahabat yang saling membantu untuk kebaikan di bidang teknologi adalah berkah takterkira.  Orang-orang berilmu tinggi tetapi tetap beramal seperti padi.  Semakin  berisi semakin menunduk.

Dalam grup Kazala tersebut aku semakin banyak belajar tentang pribadi-pribadi tangguh.  Dedikasi mereka terhadap pendidikan dan kemajuan anak-anak generasi muda sangat membanggakan.  Dengan ketersediaan teknologi, belajar semakin mudah.  Penilaian juga menjadi ringan.  Koreksi bisa dilakukan secara otomatis.  Analisa ulangan harian bisa langsung terlihat dan bisa diunduh melalui Forms.

Bulan November 2018. Ada pengumuman lagi tentang kegiatan ISODEL (International Seminar on Online Distance and e-Learning).  Penyelenggaranya Pustekkom dan Kemdikbud.  Bulan Desember 2018.  Aku berangkat naik travel ke Surabaya.  Penerbangan dengan City Link pukul 18.00 petang.  Karena travel dari Blora hanya ada pada jam-jam tertentu, aku memilih berangkat pukul 7 pagi.  Kebetulan duduk di samping seorang dokter hewan yang bertugas di Kendari alumni SMP Negeri 2 Blora.  Pejalanan lebih asyik jika kita bertemu dan berbincang-bincang dengan orang-orang yang sama chemistry. 

Salah satu teman MIEE sudah memesan kamar hotel untuk dia dan aku.  Tanggal 2 Desember, Minggu pukul 19.15 aku tiba di Ngurah Rai International Airport.  Bagus.  Aku sempat berswafoto sebelum keluar dari bandara.  Naik taksi bandara, IDR 150000.  Harga yang lumayan mahal jika dibanding dengan Grab atau Gojek.  Di hotel, aku langsung langsung diantar oleh resepsionis ke lantai 2.  Bertemu dengan sahabat dari Bondowoso.  Yang sudah aku kenal sejak 22 April 2017 ketika MIEE onboarding di BPTIKP Jateng.  Gala dinnerjuga duduk sama sahabat ini menikmati sea food dan ice cream di Kampung Laut Semarang.  Pada suatu petang yang penuh bintang.

Di hotel The Stones aku bertemu dengan hampir seribu orang.  Para keynote speaker ada yang dari Kemdikbud, Pustekkom, dan para ahli teknologi dari berbagai big companies seperti WebEx dan Microsoft.  Pembicaranya pun dari berbagai negara.  Ada dari Korea, Singapore, USA, dll termasuk dari UNESCO. 

Setelah acara di ballroom besar, masing-masing peserta dipersilahkan untuk mengikuti paparan-paparan yang disampaikan oleh orang-orang yang terlibat dalam penggunaan teknologi untuk pembelajaran.  Nah ketika duduk di ruang-ruang itulah saya melihat ada guru-guru yang mengenakan selempang Duta Rumah Belajar. Waktu itu aku tidak begitu kepo tentang siapa mereka. 
Ketika ada kegiatan E2 di Paris, dan kebetulan yang dikirim ke E2 adalah dua teman dari MIEE dan seorang lagi yang baru aku kenal melalui grup Kaizala MIEE yaitu duta terbaik Rumah Belajar tahun 2019.  Aku menjadi semakin ingin tahu dan mengikuti program pelatihan rumah belajar.  Sejak bulan April lalu tugas-tugas yang diberikan kepada para peserta PembaTIK secara daring aku ikuti dan kerjakan.

Kawan adalah rejeki.  Aku mulai mengenal nama-nama orang hebat yang sangat aktif di Rumah Belajar.  Mereka mendukung aku dari sejak pembelajaran modul, pembuatan RPP terintegrasi, hingga memberi masukan-masukan pada video yang aku buat.  Video pembelajaran yang pertama kali aku buat.  Dengan RPP terintegrasi.  Kelas VII semester genap dengan topik teks deskripsi. 
Aku sudah menggunakan Rumah Belajar dengan anak-anak di sekolah semester lalu.  Yang kami paling suka adalah praktik menggunakan laboratorium maya.  Kami jadi tahu bahwa praktik menyalakan listrik bisa dilakukan dengan mudah di laboratorium maya.  Dengan belajar perlistrikan, ternyata anak-anak juga secara otomatis mengidentifikasi dan menghafalkan unsur-unsur kimia beserta lambangnya.

Anak-anak memiliki grup Whatsapp kelas.  Aku tahu bahwa anak-anak sangat aktif menggunakan gawai mereka.  Terbukti ketika petang hari mereka memanggil-manggil teman-teamnnya di grup.  Dan 90% memberikan respons mereka.  Maknanya kalau mereka dibiarkan bermain gawai tanpa arahan dari orang tua atau guru, anak-anak justru menjadi terbelakang dengan penggunaan teknologi yang sudah ada di tangan mereka.  Maka aku meminta mereka untuk memasang aplikasi game Next Door Land.  Permainan ini berisi tentang deskripsi semua wilayah di Indonesia dan negara tetangga kita, Australia.

Dengan menggunakan setelan bahasa yang bisa diubah dari bahasa Indonesia ke bahasa Inggris, anak-anak bisa dengan mudah menjelajah semua kota dan budaya baik di Indonesia maupun Australia.  Mereka mengenal bajaj, tari-tarian, makanan khas masing-masing daerah, tempat-tempat yang indah di seluruh wilayah Indonesia hingga didgeridoo maupun boomerang di Autralia. 

Dari game Next Door land, saya membuat RPP terintegrasi sewaktu mendapat tugas di PembaTIK level 2.  Selain aku bisa mengenang semua permainan yang kami pernah mainkan ketika di kelas drama dan TESOL di University of Southern Queensland, Next Door Land melengkapi pengalaman saya untuk mengunjungi lebih banyak tempat di Aussie.  Hanya dengan memainkannya.

Tentu saja selalu ada harapan di hatiku untuk bisa terus belajar hingg level berikutnya.  Melihat peserta yang lolos level 1, kurang lebih 1400an orang, aku tetap berusaha yang terbaik.  Hasil akan kita dapatkan jika kita sudah berusaha.  Bukankah menuntut ilmu itu wajib bagi setiap muslim laki-laki dan perempuan dari sejak kita lahir hingga kita ke liang lahat? 

Betapa gembira hatiku ketika tiba-tiba, setelah di sekolah menjadi agak sibuk dengan persiapan kreditasi sekolah serta penilaiannya, membuka telpon pintar dan mendapati aku termasuk dalam grup PembaTIK level 3. Syukur Alhamdulillah.  Apalagi setelah aku penasaran dan menambahkan teman-teman di grup dengan FB masing-masing.  Subhanallah.  Allah memberi kesempatan padaku untuk belajar dengan anak-anak muda yang masih fresh dan penuh semangat berbagi. 

Di kelasku sering aku memotivasi anak-anak.  Mengatakan bahwa mereka hanyalah 25% persen dari total penduduk dunia.  Tetapi mereka adalah 100% masa depan dunia.
Selalu ada kiat-kiat teman-teman yang di grup PembaTIK yang menginspirasi saya.  Misal ada teman yang selalu menulis untuk media massa. Seorang rekan yang sangat muda, seusia anak pertamaku, adalah penulis novel.  Teman-teman lain tentu saja juga hebat.  Coba saja nanti di hotel C3 Ungaran pasti aku akan dapatkan segudang ilmu dan harapan-harapan baru.

Rumah Belajar.  Engkau ada di hatiku. Di hati kami. 

 

© 2013 FlatMag. All rights resevered. Designed by Templateism