PembaTIK Level 3
Rumah Belajar
Aku mendengar Rumah
Belajar tahun 2018. Ceritanya aku ini
pengguna facebook paling setia. Ada seorang teman yang bekerja di Pustekkom
mengunggah pengumuman tentang lomba MembaTIK.
Waktu itu aku membuat media dengan powerpoint online. Ternyata menggunakan Sway lebih menarik. Judulnya Be Healthy Be Happy. Chapter 3 kelas
9. Setelah kukirim ke panitia lomba aku
tetap mengikuti perkembangan lomba ini.
Tidak masuk 6 besar. Tidak ada
rasa kecewa sedkit pun. Memang aku ini
bukan ahli TIK. Mesti banyak belajar
dari teman-teman lain.
Everyday is miracle. Aku selalu percaya pada Law of
Attraction. Ask Believe Receive. Semesta mendukung. Aku selalu bangun pagi dengan perasaan sehat
dan gembira. Perasaan suka dan penuh
pengharapan sangat mempengaruhi kesehatan jiwa ragaku. Aku mesti berangkat ke sekolah dalam keadaan fresh.
Bagaimana perasaan
anak-anak di kelas ketika melihat gurunya berdiri di depan kelas tanpa
senyum. Gairah belajar mereka sangat
bergantung pada gurunya. Aku selalu berusaha
mengikuti perkembangan mereka. Alangkah
manjanya.
Lama tidak aktif dengan
nomor hapeku yang lama, aku jadi ketinggalan info tentang perkembangan di grup
MIEE (Microsoft Innovative Educator Experts).
Ketika aku ada kesulitan meng-upgrade
fitur office 365, aku kontak ke salah satu teman Fellow. Dia menolongku
memasukkan nomorku yang baru ke dalam grup lagi. Ternyata yang grup Whatsapp sudah tidak
dipakai. Pindah ke Kaizala. Alhamdulillah. Memiliki sahabat-sahabat yang saling membantu
untuk kebaikan di bidang teknologi adalah berkah takterkira. Orang-orang berilmu tinggi tetapi tetap
beramal seperti padi. Semakin berisi semakin menunduk.
Dalam grup Kazala
tersebut aku semakin banyak belajar tentang pribadi-pribadi tangguh. Dedikasi mereka terhadap pendidikan dan
kemajuan anak-anak generasi muda sangat membanggakan. Dengan ketersediaan teknologi, belajar
semakin mudah. Penilaian juga menjadi
ringan. Koreksi bisa dilakukan secara
otomatis. Analisa ulangan harian bisa
langsung terlihat dan bisa diunduh melalui Forms.
Bulan November 2018. Ada
pengumuman lagi tentang kegiatan ISODEL (International Seminar on Online
Distance and e-Learning).
Penyelenggaranya Pustekkom dan Kemdikbud. Bulan Desember 2018. Aku berangkat naik travel ke Surabaya. Penerbangan dengan City Link pukul 18.00
petang. Karena travel dari Blora hanya
ada pada jam-jam tertentu, aku memilih berangkat pukul 7 pagi. Kebetulan duduk di samping seorang dokter
hewan yang bertugas di Kendari alumni SMP Negeri 2 Blora. Pejalanan lebih asyik jika kita bertemu dan
berbincang-bincang dengan orang-orang yang sama chemistry.
Salah satu teman MIEE
sudah memesan kamar hotel untuk dia dan aku.
Tanggal 2 Desember, Minggu pukul 19.15 aku tiba di Ngurah Rai
International Airport. Bagus. Aku sempat berswafoto sebelum keluar dari
bandara. Naik taksi bandara, IDR
150000. Harga yang lumayan mahal jika
dibanding dengan Grab atau Gojek. Di
hotel, aku langsung langsung diantar oleh resepsionis ke lantai 2. Bertemu dengan sahabat dari Bondowoso. Yang sudah aku kenal sejak 22 April 2017
ketika MIEE onboarding di BPTIKP Jateng.
Gala dinnerjuga duduk sama sahabat ini menikmati sea food dan ice cream
di Kampung Laut Semarang. Pada suatu
petang yang penuh bintang.
Di hotel The Stones aku
bertemu dengan hampir seribu orang. Para
keynote speaker ada yang dari Kemdikbud, Pustekkom, dan para ahli teknologi
dari berbagai big companies seperti
WebEx dan Microsoft. Pembicaranya pun
dari berbagai negara. Ada dari Korea,
Singapore, USA, dll termasuk dari UNESCO.
Setelah acara di ballroom
besar, masing-masing peserta dipersilahkan untuk mengikuti paparan-paparan yang
disampaikan oleh orang-orang yang terlibat dalam penggunaan teknologi untuk
pembelajaran. Nah ketika duduk di
ruang-ruang itulah saya melihat ada guru-guru yang mengenakan selempang Duta Rumah
Belajar. Waktu itu aku tidak begitu kepo tentang siapa mereka.
Ketika ada kegiatan E2 di
Paris, dan kebetulan yang dikirim ke E2 adalah dua teman dari MIEE dan seorang
lagi yang baru aku kenal melalui grup Kaizala MIEE yaitu duta terbaik Rumah
Belajar tahun 2019. Aku menjadi semakin ingin
tahu dan mengikuti program pelatihan rumah belajar. Sejak bulan April lalu tugas-tugas yang
diberikan kepada para peserta PembaTIK secara daring aku ikuti dan kerjakan.
Kawan adalah rejeki. Aku mulai mengenal nama-nama orang hebat yang
sangat aktif di Rumah Belajar. Mereka
mendukung aku dari sejak pembelajaran modul, pembuatan RPP terintegrasi, hingga
memberi masukan-masukan pada video yang aku buat. Video pembelajaran yang pertama kali aku
buat. Dengan RPP terintegrasi. Kelas VII semester genap dengan topik teks
deskripsi.
Aku sudah menggunakan
Rumah Belajar dengan anak-anak di sekolah semester lalu. Yang kami paling suka adalah praktik
menggunakan laboratorium maya. Kami jadi
tahu bahwa praktik menyalakan listrik bisa dilakukan dengan mudah di
laboratorium maya. Dengan belajar
perlistrikan, ternyata anak-anak juga secara otomatis mengidentifikasi dan
menghafalkan unsur-unsur kimia beserta lambangnya.
Anak-anak memiliki grup
Whatsapp kelas. Aku tahu bahwa anak-anak
sangat aktif menggunakan gawai mereka.
Terbukti ketika petang hari mereka memanggil-manggil teman-teamnnya di grup. Dan 90% memberikan respons mereka. Maknanya kalau mereka dibiarkan bermain gawai
tanpa arahan dari orang tua atau guru, anak-anak justru menjadi terbelakang
dengan penggunaan teknologi yang sudah ada di tangan mereka. Maka aku meminta mereka untuk memasang
aplikasi game Next Door Land. Permainan
ini berisi tentang deskripsi semua wilayah di Indonesia dan negara tetangga
kita, Australia.
Dengan menggunakan
setelan bahasa yang bisa diubah dari bahasa Indonesia ke bahasa Inggris,
anak-anak bisa dengan mudah menjelajah semua kota dan budaya baik di Indonesia
maupun Australia. Mereka mengenal bajaj,
tari-tarian, makanan khas masing-masing daerah, tempat-tempat yang indah di
seluruh wilayah Indonesia hingga didgeridoo maupun boomerang di Autralia.
Dari game Next Door land,
saya membuat RPP terintegrasi sewaktu mendapat tugas di PembaTIK level 2. Selain aku bisa mengenang semua permainan
yang kami pernah mainkan ketika di kelas drama dan TESOL di University of
Southern Queensland, Next Door Land melengkapi pengalaman saya untuk
mengunjungi lebih banyak tempat di Aussie.
Hanya dengan memainkannya.
Tentu saja selalu ada
harapan di hatiku untuk bisa terus belajar hingg level berikutnya. Melihat peserta yang lolos level 1, kurang
lebih 1400an orang, aku tetap berusaha yang terbaik. Hasil akan kita dapatkan jika kita sudah
berusaha. Bukankah menuntut ilmu itu
wajib bagi setiap muslim laki-laki dan perempuan dari sejak kita lahir hingga
kita ke liang lahat?
Betapa gembira hatiku
ketika tiba-tiba, setelah di sekolah menjadi agak sibuk dengan persiapan
kreditasi sekolah serta penilaiannya, membuka telpon pintar dan mendapati aku
termasuk dalam grup PembaTIK level 3. Syukur Alhamdulillah. Apalagi setelah aku penasaran dan menambahkan
teman-teman di grup dengan FB masing-masing.
Subhanallah. Allah memberi
kesempatan padaku untuk belajar dengan anak-anak muda yang masih fresh dan penuh semangat berbagi.
Di kelasku sering aku
memotivasi anak-anak. Mengatakan bahwa
mereka hanyalah 25% persen dari total penduduk dunia. Tetapi mereka adalah 100% masa depan dunia.
Selalu ada kiat-kiat
teman-teman yang di grup PembaTIK yang menginspirasi saya. Misal ada teman yang selalu menulis untuk
media massa. Seorang rekan yang sangat muda, seusia anak pertamaku, adalah
penulis novel. Teman-teman lain tentu
saja juga hebat. Coba saja nanti di hotel
C3 Ungaran pasti aku akan dapatkan segudang ilmu dan harapan-harapan baru.
Rumah Belajar. Engkau ada di hatiku. Di hati kami.
About
Tags
Popular
Waah pengalaman yang menginspirasi mba' gartatik. Semoga saya ketularan banyak pengalaman sekeren ini :)
ReplyDeleteAku yakin panjenengan bisa juga, Dik. Mari kita belajar bersama
Delete